3

Pengalaman dengan OSHC family, hamil, dan melahirkan di Gong (Part 1 – OSHC family)

OSHC (Overseas Student Health Cover) naik lagi!! Hal ini yang pertama kali menjadi pertimbangan untuk para student yang mau membawa serta keluarganya. Tidak dipungkiri banyak teman kami yang akhirnya urung, memilih untuk LDR dengan anak dan pasangan, gara-gara biaya OSHC  super tinggi yang bisa bikin collapse rekening yang menopang beasiswa :(.  Di kampus saya UOW, BUPA sebagai provider OSHC menetapkan quote yang makin kesini dirasa makin muahal. Kabarnya begitu pun juga dengan provider di kampus lain, misalnya Allianz.

Untuk BUPA, ada 3 macam rate: single, couple, dan family.

Single rate yang ditetapkan tidak masalah karena sudah masuk coverage dari sponsor beasiswa. Tapi para sponsor tersebut (termasuk Australia Awards, LPDP, spirit) tidak akan menanggung couple dan family rate. Kabar baiknya, yang family rate tidak ada limit jumlah anak. Bila ada anak baru lahir, tidak ada tambahan biaya, hanya update keanggotaan saja.

Berikut quote yang pernah didapat (dengan bertanya langsung ke student central karena quote online dari websitenya jatuhnya lebih tinggi):

BUPA rate (Master student)
December 2013 – OSHC Single Rate for 24 months      $955.02
December 2014-OSHC Family Upgrade for 24 months       $3,288.00
BUPA rate (PhD student)
December 2016 – OSHC Single Rate for 40 months      $2,226.51
December 2016 – OSHC Family Upgrade for 40 months      $7,929.47
Penentuan tanggal awal dan tanggal akhir masa berlakunya oshc dilihat dari tanggal berlaku visa.

 

Karena pihak kampus menyadari bahwa OSHC ini salah satu requirement pengajuan visa yang kalau terhambat pembayarannya bisa menyebabkan delay keberangkatan, maka UOW biasanya akan menawarkan untuk memberi talangan dulu di awal dan pembayarannya bisa menyusul sesampainya kita di Oz. Urusan pinjaman jadinya langsung dengan kampus, tercatat di SOLS – academic system. Harus tepat waktu ya pembayarannya karena kalau ternyata masih ada outstanding debt misal ada cicilan OSHC yang belum lunas, final grade kita akan withheld seperti yang pernah saya alami di penghujung semester lalu hehe. Oya kalau ternyata keluarga kita tidak jadi datang atau keberangkatan mundur dari rencana awal, kita bisa mengajukan refund. Saya dapat refund $700 dengan menunjukkan cap paspor anak dan suami saya yang mundur berangkat 6bulan dari rencana awal.

Oke setelah memegang kartu OSHC, kita bisa tenang menjalani masa kuliah. Bila sakit maka jangan ragu untuk langsung booking appointment dengan dokter umum yang istilahnya disini GP (general practitioner). Setahu saya semua medical service disini hanya bisa ditemui dengan appointment sebelumnya, termasuk GP, kecuali kasus emergency bisa langsung ke hospital. Jadi untuk mendapatkan medical service kita akan diberikan slot waktu, kita tahu harus datang jam berapa dan tidak harus mengantri lama-lama.

Semua biaya konsultasi bila hanya terkait GP akan langsung bulk-billed, total dicover oleh BUPA dan tidak ada gap. Namun bila GP meresepkan obat kita ya harus beli dengan uang sendiri, belinya biasanya di apotik yang menerima prescription (Chemist, Priceline pharmacy, dll). Selain konsultasi dengan GP, layanan medis (yang pernah saya lakukan: blood check, IUD removal, dan ear vacuum) harus membayar sendiri dulu untuk kemudian direimburse berdasarkan item di schema benefit yang kadang ada gap sampai sekitar 30%, item2 tersebut bisa dicek di http://www.bupa.com.au/for-providers/medical/bupa-australia-medical-gap-scheme-schedule

Perlu diingat, gigi dan mata sama sekali tidak dicover OSHC jadi sebaiknya sebelum berangkat ke Australia kita fix-kan dulu ke dokter gigi semua masalah gigi kita atau beli kacamata cadangan untuk yang memakainya. Atau kalau misal ternyata berlanjut disini BUPA menyediakan extra cover (kartu & membership number terpisah, plus biaya premi yang lumayan perbulannya). Itupun ada 2 months waiting period dan hanya 60% coverage. 1 (satu saja) tambalan gigi kita dicharge $185 dan dengan extra coverage itu pun hanya dicover $111.3 sisanya kita bayar sendiri jadi mahal banget kan yaaa.

Klaim reimbursement ke BUPA bisa dilakukan dengan menunjukkan tax invoice (mereka perlu item numbernya) ke counter BUPA. Di Wollongong, counter BUPA bisa kita temui di student central dan di Crown street mall. Pencairan dari BUPA bisa dalam bentuk transfer ke rekening langsung atau mereka akan mengirimkan cek via post. Kita dapat juga melihat detail dan proses reimbursement kita secara online dengan meregistrasi nomor BUPA kita sehingga mendapat akun dan dapat login di https://login.bupa.com.au/member-self-service

Artikel ini untuk jaga2, semoga rekan2 tidak pernah sampai sakit ya 🙂

Advertisements
0

4 Days Melbourne Trip

Melbourne-Day1
Day 1 in Melbourne

Day 1 in Melbourne


Karena mau anti-mainstream, bertiga pergi ke Melbourne pake jalan darat tapi bukan pula pake mobil… kami pake kereta malam ekonomi non refundable dengan tiket $45.. dari Central Stattion jam 20.32 sampe di Melbourne keesokan paginya jam 7.30… Ni kelas kereta walau dikata ekonomi, tapi miripnya malah sama argo kelas eksekutif yang di Indonesia hehe.. bedanya cuma gak bisa rebahan di lantai aja kayaknya.
Karena pagi pas nyampe belum bisa check-in di apartement yang mau kami sewa selama 3 malam, jadi kami keliling CBD Melbourne dulu gratis pake Yarra tram, selama masih di free tram zone gak usah bayar apa2. Tinggal melenggang aja. Melenggang?? Kita geret2 koper je hahaha… Katanya backpacker tapi kok koper yang dibawa,, iya lah ini sok2an backpacker-an tapi maklum karena ada satu petualang cilik jadi dia gak mungkin kita minta dia ranselan 😀
Hari pertama itu pastinya wajib mengunjungi tempat2 yang gratis dimasuki dulu, sea life melbourne juga gratis tapi pake tiket terusan Merlin yang dari Sydney 󾌲
Kata tante Dinni, kalau laper mendera, di city ada Nelayan, shaloom, kedai satai (3 restoran ini khas Indonesia) atau bisa makan di Nandos chicken (di hari terakhir baru tahu klo ayam chili grill disini enaaak sekali, addictive, dimarinate nya kalau liat di menu itu 24jam 󾮗 recommended, dan juga halal).
Melbourne-Day2
Yippi silaturahim di hari ini adalah dengan Attar versi OZ (Tante Pratiwi punya), nanti lah habis ni kita ke Attar versi US (Tante Poppy punya).. Thank you banget ya udah nemenin Azkia maen catur raksasa dan ngubek2 kidz section di Victoria State Library. Sayang Attarnya harus pulang karena ada pengajian di Monash uni. Jadi mungkin Yarra river harus diexplore dengan perasaan kehilangan Attar dan umminya.. semoga nanti ketemu lagi semuanya ya.. Dan semoga dengan jalan2 di hari itu bisa hilang sejenak pikiran ttg 10ribu words paper di benak Ummi 😀
State Library of Victoria

State Library of Victoria

Melbourne-Day3
Gada yang mau jadi supir. Jadi ga mau rental mobil, hehe. Kata yang biasa nyupir, di belakang kemudi itu gak enak karena ga bisa menikmati pemandangan. Oke, jadinya kami ikutan rombongan tour ini aja deh haha..
Yep, roadtrip kami gak pake campervan dan berkemah sesuai sama temanya, wildlife.. (Yah padahal dah dicontohin Pak Jon Lamida dan Bu Indri Lamida󾌳) Maklum ada buntut jadi segala urusan pake drama dulu haha.. Ni acara jalan2 jadi bener2 gak ramah di kantong juga 󾍆. Tekorr tekorr. Tapi puas lah karena semua dikelilingin: Surf beach, Memorial Arch, Kennett river, Otways rainforest dan tentunya 12 Apostles.

This slideshow requires JavaScript.

 

Oya si ipod nano yang kami pesen sekalian pas booking yang kami kira buat fasilitas dengerin musik dari provider tour nya ternyata adalah buat multi languange guide, sama sekali gada musiknya. Itu buat visitor yang ga ngerti bahasa si guide (english).. Kami minta karena awalnya karena kan ada satu orang anggota rombongan yang suka cranky gara2 bosen di jalan nih, jadi pesen ipod aja secara kan ga ada tambahan biayanya ini hehehe. Eh ternyata si abang guidenya super kocak, sepanjang jalan bikin ketawa (kadang gak ngerti tapi ya ikut ketawa aja 󾌴). Si abang guide ngoceh diselingi senandung2 dan berdendang lagu2 australia. Sekalian dia ngejelasin sejarah australia kenapa begini kenapa begitu, kenapa australian gandrung banget sama vegemite yang rasanya hoeekks… Alhasil menurut saya oke banget fullday tour ini, interactive juga, ada mic buat peserta memperkenalkan diri dan berkomentar.

Berangkat dijemput jam 7:30 di tempat yang kita pilih, pulang sampe penginapan lagi jam 21:00, recommended kok ternyata󾌵󾮗.
Melbourne-Day4
Setelah 3 hari kaki mengalami gempor, hari terakhir itu jadinya cari spot yang enak untuk leyeh2. Wah dimana aja tiduran bisa kok karena banyak tempat yang cozy:
bean bag berserakan di National Gallery of Victoria….
rumput2 dan bangku taman di Queen Victoria garden..
air minum refill di sepanjang Federation Square…
Day 4 in Melbourne

Day 4 in Melbourne

Ketika lapar mendera.. Nah tudia ada yg makan Nandos lagi hehe. Cocok seleranya sama kita ya ni ayam karena ada sambel cabenya dan bumbu ayam gurih2 pedes.
Ok semua… Harus hemat2 energi karena malemnya bakal 10jam di kereta.
IMG_1535See you next trip!
19

Sekolah bersama anak usia SD di New South Wales (Primary School, mulai dari registrasi sampai homework)

Intermezo… Di awal bulan Ramadhan di tahun 2015 dengan kemurahan-Nya Allah mengumpulkan kami bertiga untuk kemudian sama2 sekolah di kota Wollongong. Kesempatan yang mungkin jarang diberikan karena sangat lazimnya istilah “no pain no gain : cerita seorang emak harus rela berpisah dengan anak/pasangan untuk melanjutkan sekolah”. Ini saya banget 6 bulan sebelumnya dan istilah tersebut jadi gak berlaku lagi mulai saat itu, alhamdulillah. Berikutnya akan saya tuliskan pengalaman sekolah anak, insyaAllah yang ini agak komprehensif dari pada sekedar status di linimasa saja.

 

Pendaftaran (Paperwork/ urus2an dokumen)

NSW, kenapa kok lingkupnya hanya NSW? Karena di Australia urusan pendidikan diserahkan ke masing-masing state. Jadi ibaratnya si kementerian pendidikannya itu ada sendiri-sendiri. Seperti misalnya di Victoria, usia 5 tahun masuknya ke Preprimary, sedangkan di NSW masuknya ke kelas Kindergarten, rata-rata usia wajib masuk sekolah sih tetep sama-sama di umur 5 tahun juga. Nah daftarnya juga beda, untuk ke NSW saya mengurus pendaftaran via email ke TempVisa@det.nsw.edu.au email resmi dari Temporary Resident Program yang melayani pemegang visa temporary (termasuk international student).

Sewaktu saya mengurus visa keluarga, “Confirmation of Placement” untuk sekolah anak sudah diminta sebagai salah satu persyaratan visa dependant. Persyaratan dilihat dari usia/tanggal lahir anak yang akan berangkat apakah sudah 5 tahun atau belum per Januari, applynya cuma email2an aja isi aplikasi yang dikirim sama temporary resident program ini, lalu discan dan dikirim balik. Terus kalau berangkat belum 5 tahun tapi pas nyampe ke Australia ternyata udah termasuk yang wajib sekolah, mengurus placement bisa dengan mendatangi sekolah terdekat dengan domisili.

PlacementContoh dokumen confirmation of placement

Cari lokasi sekolah sudah bisa dilakukan sebelum kedatangan

Di proses placement ini udah diminta ada domisilinya untuk diisi di form. Kita bisa menghubungi orang Indonesia yang sudah settle di Australia untuk pinjam alamatnya, kira2 yang nanti kita akan tinggal satu suburb karena itu yang nanti jadi dasar ke sekolah mana nanti dapet placementnya. Ini gunanya agar kita bisa research dulu kira2 yang mana sekolah yang akan kita tuju nanti. Bisa dicari dari sini http://www.decinternational.nsw.edu.au/search/schools

Setiap sekolah disini ada websitenya dan punya aplikasi mobile, download aja namanya “Skoolbag”.  Parent friendly dan informative pokoknya. Sip deh lengkap banget kontennya, update ngasih info dan reminder tentang event2 dan pengumuman di sekolah.

skoolbag

Screenshot aplikasi skoolbag

Alokasi mutlak harus berdasarkan domisili, artinya sekolah dengan jarak terdekat dengan rumah. Terus kenapa kok gak kayak di Indonesia aja, kan cenderung pada hunting kuota sekolah2 unggulan, dan jarak tempuh ke sekolah bukan jadi pertimbangan. Padahal dipikir-pikir kasian bener anak kecil udah disuruh ke sekolah yang bikin capek di jalan. Penjelasannya, disini semua public school udah sama standarnya.. jadi gada bedanya lagi gak pake embel2 sekolah unggulan. Kecuali ada juga private school yang lebih menekankan ke agama, kebanyakan yang sering saya lihat itu Catholic atau kalau di Sydney banyak terdapat Islamic school.

Biaya Sekolah disini gimana? Mahal nggak?

Sebenernya hal ini yang saya cari tahu duluan sebelum yang lain, karena ini menyangkut hidup matinya rekening yang menopang beasiswa saya hehe.. Anak dibawah 5 tahun berarti belum wajib sekolah. Dan kalau dimasukkin ke childcare atau pre-school artinya bayar. Untuk Azkia yang datang pas di umur 5 tahun lewat 6 bulan kami cukup beruntung karena dengan diwajibkan sekolah, jadinya gratisan di sekolah negeri. Nah tapi untuk NSW, public school yang digratiskan itu adalah untuk anak dari orangtua yang research atau dari orangtua yang disponsori oleh AUSAID/defence: “..only international students enrolled in a doctoral degree, or receiving a fully funded scholarship from an Australian university or the Australian government, are exempt from payment of the fees”.

Teman kami sesama orangtua di NSW dengan program kuliah coursework membayar sejumlah AUD 1250 per term (setelah dipotong diskon karena international student). One term = 10 week. Dalam satu tahun ada 4 term ( term di Indonesia mungkin sama istilahnya dengan triwulan). Berarti setahun untuk international student totalnya AUD 5000. Itu diluar seragam dan biaya-biaya event misal excursion.

Saya pernah juga menanyakan teman yang anaknya pre-school di Melbourne, bayarnya: application fee sejumlah AUD 12.5 ke council & placement fee sejumlah AUD 30 ke sekolah,  lalu per-termnya AUD 435. Public schoolnya kalau yang bayar, mencapai AUD 8900 untuk setahun.

Seragam, karena sepotong kaos lengan panjang saja AUD 35 dan tunik dress 49 (tbeneran deh setelah lama disini itu pasti kangen pusat perbelanjaan macem tanahabang/thamrin city hehehe), maka waktu pertama kali masuk sekolah saya tanya ke office sekolah apakah mereka ada stock baju second, dan di Gwynneville ada tuh satu lemari. Dijual hanya AUD 5 saja sepotong atasan, tergantung kepudaran warnanya saja dan memang disini bajunya kuat-kuat, walaupun belel atau pudar dikit kalau saya sih gak masalah. Sebenarnya lebih gampang cari sendiri di toko karena gak mesti pake model yang sama, asal warna senada. Bawahan celana atau rok cari sendiri bisa dapet yang AUD 10an.

20098_10153525152364516_83033795798380972_n

Kiri untuk seragam kaos, kanan untuk dress

Gwynneville

*Masalah seragam disini gak dibikin susah… Azkia pun tetap diperbolehkan mengenakan jilbab, karena orang oz mengusung anti diskriminasi. Disini komplen dikit apalagi masalah SARA dan bullying langsung ditindaklanjuti, sepertinya aturan untuk ini tegas, bener2 ditegakkan baik di kampus, sekolah dan tempat umum.

Peraturan Sekolah & Imunisasi

Pernah ada satu surat edaran dari sekolah: “A person has diagnosed with pertussis, watch out for the symptoms of pertussis in your child, especially over the next weeks“. Sebelum berangkat ke Australia ada yang wanti2 kalau segala penyakit di sekolah penularannya sangat singkat, walaupun di Indonesia ya sama juga seperti itu, tapi sekolah disini aware banget menangani penyakit atau alergi (anak bule disini banyak yang alergi kacang, peanut is prohibited in lunchbox) sampe katanya anak2 yg terjangkit harus dikarantina  😥. Baru masuk sekolah lagi klo bener2 sembuh. Bahkan sampai masalah kutu rambut. Sebelum berangkat dulu ada yang menyarankan udah bawa Peditox dari Indonesia. Eh tapi Azkia alhamdulillah mau tetap pakai jilbab seperti disekolah Raudhatul athfalnya dulu.
Semua siswa dipastikan sudah diimunisasi. Kita pun diminta untuk menyerahkankan record imunisasi anak dari mulai lahir, pada waktu mendaftar sekolah pertama kali. Saya membuat format sendiri, dan format untuk immunization record ala saya ini diperbolehkan.

immunisation

Contoh format immunisation record

Lunchbox direkomendasikan sekolah untuk selalu ada raw food (buah atau yoghurt wajib ada). *Semoga Azkia sehat2 terus ya nak… Mama sama papa selalu perlu kesediaan Azkia buat “setay setrong” sampe akhir masa kuliah ini. Dengan kita semua sehat, kita bisa menempuh semester demi semester sampai tuntas.

 

Waktu masuk dan liburan (Terms)

Karena tadi sudah dijelaskan bahwa 1 term itu sama dengan 10 week, jadi saya langsung kasih tabel ini aja ya

2015 2016
1st Term Tues 27 Jan – Thurs 2 April Wed 27 Jan – Fri 8 April
2nd Term Mon 20 April – Fri 26 June Tues 26 April – Fri 1 July
3rd Term Mon 13 July – Fri 18 Sep Tues 19 July – Fri 23 Sep
4th Term Tues 6 Oct – Fri 18 Dec Mon 10 Oct – Tues 20 Dec

NSW School Term

 

Antar term di term pertama, kedua, dan ketiga dikasih break (libur) selama 2 minggu. Setelah term keempat baru deh ada libur panjang, lamanya hampir 2 bulan karena musim panas dan Christmas. Dilihat tari table dan berdasarkan pengalaman kemarin, anak-anak sekolah masuk setelah Australian Day di tanggal 26 Januari. Hari pertama masuk sekolah gak mesti hari Senin.

Bell times, Library Day & Homework

School Commence          : 9:10 am

Lunch                              : 11:10 am to 11:50 am

Recess                            : 1:25 pm to 1:55 pm

School Concludes           : 3.10 pm

 

Di Gwynneville lonceng sekolah berbunyi jam 9.10 pagi tapi karena itu pula jadinya bubar sekolahnya jam 15.10. Sekolah lain di Wollongong seperti misalnya di Mount Osley dan Demonstration School masuk 09.00-15.00. Mungkin kebijakan ini diambil sekolah Azkia karena bis sekolahnya ngedrop anak Gwynneville paling akhir setelah nganter dulu ke Keira public school. Bis sekolah disediakan untuk antar jemput, kita tinggal stand by di halte sesuai jadwal rutenya si bis dan jangan lupa bawa kartu Opal for student.

Ada Library day seminggu sekali, masing-masing siswa diminta untuk bawa library bag karena buku dipinjamkan untuk dibawa ke rumah. Jadi PR untuk kelas 1 sih ya masih reading book aja, bukunya disediakan sesuai level dan di perpustakaan sekolah atau bebas juga jadi member di city library. Sepertinya di Year-1 (SD Kelas 1) lebih ditekankan literacy ketimbang arithmetic.. Soalnya PR-nya yang seminggu sekali dikumpul itu, semuanya spelling, belum ada PR matematikanya.

Kantin sekolah

Kantin di sekolah gak setiap hari ada, biasanya hanya menerima order hari Kamis dan Jumat saja. Makanannya hanya dideliver sewaktu lunch saja sesuai formulir isian, satu paketnya AUD 6. Yang melayani kantin juga adalah para orangtua siswa yang bersedia menjadi volunteer. Untuk siswa yang muslim disediakan makanan halal, itu karena sekolah ini multikultural jadi sudah terbiasa special request seperti ini.

Keterlibatan orangtua (parent involvement) sebenarnya banyak, yang saya ngerti salah satunya selain volunteer ada juga P&C.. Semacam komite orangtua yang ikut menentukan banyak kebijakan sekolah. Sayangnya karena saya kuliah dan keterbatasan waktu jadi gak ikut meeting2nya. Hanya ikut parent meeting sama teacher di awal term ini aja.

primary school

Penguasaan Bahasa

Anak usia TK dan SD mencengangkan banget lo mereka dalam belajar bahasa yang baru. Justru mereka bisa lebih fasih, plus bonus logat dan juga slanknya.. Mungkin beberapa minggu pertama mereka hanya diam saja tapi sebenarnya menyerap cepat kosakata dari teman sebayanya.

Coba lihat nanti setelah anak bersekolah 6bulan saja, mereka akan casciscus dan malah memperbaiki pronounciation emaknya (belepotan, maklum lidah sunda) hahaha.. Kenapa begitu, sepertinya kita orang dewasa kalau disuruh ngomong bahasa lain itu adalah terjemahan dari pikiran kita yang berbahasa ibu lalu baru  ditranslate kemudian ya, begitu deh jadinya 😉

 

 

Apalagi ya? Tadinya mau nulis tentang pergaulan disini karena lagi heboh2 ttg LGBT, ah tapi itu nanti saja, lagipula saya belum melihat itu di sekolah (kalau di kampus  iya dan kampus memang support itu),  Mungkin cukup sekian dulu, kalau ada tambahan akan saya update 🙂

 

 

0

Feedback for Azkia’s school report term II

Ada yang lebih urgen dari mengerjakan assignment sebagai mahasiswa rupanya. Tugas sebagai ortu! 484 words (*).

Bikin feedback buat laporan dari guru dan kepala sekolahnya anak. Hehe.

(*)Eh ini gara-gara tugas2 kemarin jadi bawaannya ngitung2 word count aja..

Bismillahirrahmanirrahim.

Ananda Azkia sudah semakin cerdas, Alhamdulillah selain itu juga selalu terlihat ceria. Hanya pada satu waktu Ananda Azkia terlihat sangat capek, tidak membuka komunikasi sama sekali dan kami maklum bahwa pada saat itu Ananda Azkia kehabisan energi setelah mengikuti pentas tarian dan lomba membangun menara dari gelas aqua. Dari situ kami mengambil pelajaran bahwa sama seperti kita orang dewasa pada umumnya, apabila sedang ingin istirahat, Ananda Azkia tidak bisa dipaksa untuk merespon tentang cerita apa yang ingin kita dengarkan darinya, dengan kata lain biarkanlah dulu seorang anak untuk menggunakan waktunya sendiri (leyeh-leyeh sepuasnya) sampai energinya kembali untuk bercerita dengan senang hati.

Dengan kondisi sekarang, waktu untuk berkomunikasi dengan ibunya sendiri terbatas lewat layar komputer. Alhamdulillah Ananda Azkia bisa dengan sabar dan tetap antusias menunjukkan semangatnya dalam melukis dan menggambar (dengan memberikan hasil-hasil karyanya, membentangkan kertas gambar), mengajak mamanya senam (mengikuti gerakan yang dicontohkannya sendiri) walaupun terpisah jarak dan dilakukan dengan internet dalam bentuk video conference. Kami berusaha berkomunikasi lewat aplikasi Skype (Ananda Azkia sudah mengenal fungsi tombol-tombolnya) selama 30-45 menit dalam rentang 2-3 hari sekali. Sayangnya kadang sesi ini terganggu ketika Ananda Azkia memalingkan perhatiannya kepada layar televisi. Terutama ketika ada acara pelangi ceria, masha and the bear, dan hobinya memutar film animasi Frozen (Princess Elsa dan Anna).

Di rumah, Ananda Azkia sangat mengidolakan Princess Elsa. Beberapa atribut baju dan sepatunya meniru Princess ini. Menurut kami sangat wajar karena proses mengidolakan tokoh seperti ini memang penting untuk mempelajari karakter alami seorang wanita dalam lingkungannya. Namun kami juga berharap selain tampilan fisik princess-princess yang ada dalam karakter film, Ananda Azkia juga bisa meneladani sifat-sifat mulia dan nilai akhlakul karimah. Sebelum ini pada masa balita Azkia sudah dikenalkan dengan princess-princess islami (nama-namanya dari Asmaul Husna) dalam buku-buku bilingual terbitan penerbit islam, seperti misalnya Princess Rahima yang sifatnya penyayang, Princess Latifa yang sabar dan pemaaf, Princess Hafizha yang sifatnya amanah, Princess Raufa yang senang mengasuh, dll. Alhamdulillah tambahan dari proses medongeng dari buku- buku tersebut Ananda Azkia berkembang kemampuan bahasanya serta imajinasinya.

Mengenai intonasi dan volume suara ketika Ananda Azkia mengemukakan pendapat memang kami selalu ingin memberikan contoh bahwa untuk membuat orang lain paham tidak harus dengan kata-kata keras dan meninggikan suara. Kami merasa bahwa sebagian besar mungkin juga adalah  contoh tidak baik dari orangtuanya selama ini yang berkomunikasi tidak sesuai dengan tata krama tersebut. Kami sebagai orangtua tidak akan berhenti belajar menjadi teladan dan dapat terus berintrospeksi diri dalam perilaku keseharian yang paling berkesan untuk Ananda Azkia. Terima kasih atas pengamatan serta bimbingan Ibu Emma dan Ibu Eka yang bahkan lebih perhatian dari kami sebagai orangtua. Kami selalu mendukung pengasuhan berlandaskan islam yang dilalui Azkia dapat tertanam dengan kuat, menjadi fondasi untuk langkah hidup Ananda Azkia kelak menjadi manusia yang cerdas, sholehah dan berprestasi. Aamiin ya Robbal aalaamiin.

raport-azkia-ke-2

2

Feedback for Azkia’s School Report

Aaah ini dia… catatan dari Ibu-ibu guru yang si emak Azkia tunggu-tunggu. Setelah baca berulang dan berulang, lalu sibuklah emaknya Azkia dalam semalam bikin tanggapan balik (bener kan itu bahasa Indonesianya dari feedback ? 😀 ). Tanggapannya ini serius banget dan pada akhir2 paragraf menjadi ajang curhat si ortu murid lebay ini hehee…

Berikut laporan perkembangan Azkia tengah semester gasal tahun 2014/2015:

Azkia Pugananda Rahima termasuk anak periang, hal tersebut terlihat dari awal pembelajaran sudah bisa berpisah dengan neneknya. Dalam bersosialisasi, Azkia mau bermain dengan siapa saja tanpa memilih-milih teman dan termasuk anak yang disenangi oleh teman-temannya dan banyak yang ingin bermain dengan Azkia. Ketika Azkia tidak masuk sekolah pun banyak teman-temannya yang menanyakan kepada Bu Guru alasan Azkia tidak masuk sekolah. Dalam hal kemandirian, seperti melepas sepatu lalu menggantinya dengan sandal, kemudian menyimpannya di loker dan menyimpan tas pada tempatnya pada awalnya masih dibantu oleh neneknya tapi setelah diberi tahu untuk melakukannya sendiri akhirnya bisa melakukannya sendiri.

Untuk menyimpan kembali alat-alat tulis setelah menggunakannya dan meyimpan piring ke dapur Alhamdulillah dari awal sudah melakukannya sendiri. Dalam kegiatan di kelas, seperti berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, menghafal surat-surat pendek, mengikuti gerakan dan melafadzkan bacaan sholat sudah bisa Azkia ikuti dengan baik walaupun terkadang ketika kegiatan berlangsung masih suka terlihat ngobrol dengan teman-temannya sehingga Bu Guru mengingatkan dan memberi tahu Azkia supaya berhenti ngobrol dan kembali mengikutinya, Kegiatan pengenal Iqro dan bacaan latin Alhamdulillah kemampuan berkembang baik.

Kemampuan berbahasanya berkembang dengan baik dan termasuk anak yang aktif dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh Bu Guru. Dalam kegiatan menyebutkan tubuh, mencari kata dari huruf awal “M”, nyanyi tubuhku, meniru kalimat tentang mata, mengikuti perintah secara bersamaan “jongkok, berdiri”, bercerita tentang mata, memberikan informasi tentang lingkungan rumah, menyebutkan alamat rumah, mengulang kata dalam bahasa Arab “rumah, pintu, jendela”, mendengarkan cerita guru, mengurutkan gambar seri, menyebutkan nama ayah ibu, mengucapkan syair dan menyebutkan perkakas rumah sudah bisa Azkia ikuti dengan baik. Dalam kegiatan menyanyi bahasa Inggris masih harus terus dilatih supaya kemampuannya bisa berkembang lebih baik lagi.

Kemampuan kognitifnya berkembang baik. Azkia mudah memahami setiap kegiatan yang dijelaskan oleh Ibu Guru, seperti menghitung angka 1-5, menyebutkan bentuk geometris yang ada di kelas, mengelompokkan balok sesuai dengan bentuk geometris, menyusun huruf yang ada di balok “A-D”, memberikan tanda “X” pada gambar yang tidak termasuk kelompoknya, menghubungkan gambar dengan bilangan, menyebutkan warna dan mencampur warna dasar, bermain penambahan, bermain pengurangan, menghubungkan lambang bilangan dengan kata, menyusun puzzle, pantomim benda sesuai dengan yang anak sebutkan, mengelompokkan benda yang sejenis, mengamati tubuh dengan kaca pembesar, membilang dan memindahkan biji kacang, mengukur kursi dengan jengkal, membedakan berbagai bau dari bumbu dapur dan percobaan larut dan tidak larut dalam kegiatan  “membuat teh manis untuk ayah dan ibu”.

Perkembangan motorik kasarnya berkembang dengan baik, Kondisi fisiknya aktif dan bagus sehingga hal itu tidak menjadi penghambat bagi Azkia untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan motorik kasarnya, seperti berjalan maju pada garis lurus, berjalan di atas papan titian, mendorong tembok, melompat dengan 2 kaki dengan seimbang, jalan gerobak, merangkak, senam, jalan-jalan, permainan kelas, meloncat dari atas kursi, bergelantung, masuk ke dalam terowongan, bermain pola dan opsih.

Alhamdulillah untuk kegiatan menebalkan garis lurus, mengarsir dan mengisi pola bola mata, menyusun menara dengan 4 kubus, menjiplak, bermain plastisin, membuat coretan dam bentuk lingkaran, mencap dengan ibu jari, mencontoh huruf A-D, melukis, bermain pasir, siluet gambar rumah dan membentuk rumah dari balok, menggambar rumah sendiri, menggunting gambar pohon, menyepuh gambar sederhana, jumputan dan melipat “rumah” sudah bisa Azkia ikuti dengan baik,

Itulah perkembangan Azkia pada pertengahan semester Gasal ini dan tentunya kami masih menanti perkembangan yang semakin baik pada sisa semester Gasal ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih dan kerja samanya selama ini.

🙂 Oke, now is the feedback itself…. hopefully someday, you will read this. Azkia!

Ananda Azkia kesehariannya di rumah merupakan anak yang pintar dan dalam hal bersosialisasi, Azkia cepat bergaul dan senang berteman dengan siapa saja. Dalam lingkungan baru Azkia selalu mendekati anak usia sebayanya untuk diajak berteman. Namun dalam hal bergaul, Azkia selalu merasa tidak enak jika tidak memenuhi permintaan temannya dan merasa bersalah jika temannya mengancam tidak akan mau berteman lagi, sehingga menjadi tertutup jika temannya membuat kesalahan. Jika terdapat luka/memar setelah bermain atau mainan yang hilang direbut, Azkia baru menceritakan jika diminta.

Dalam hal pelajaran di sekolah, Azkia sering mengulangnya di rumah seperti nyanyian dan hafalan di sekolah. Azkia termasuk anak yang cepat belajar sesuatu. Namun dikarenakan Azkia merupakan anak pertama dan cucu pertama dari kedua belah pihak (nenek & kakek di Bandung serta Nini & Kai di Banjarmasin), Azkia menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga sehingga cenderung manja. Walaupun pada dasarnya sudah mandiri dan dapat menyelesaikan semua pekerjaan sendiri, seperti makan, buang air, cuci tangan, sholat, memakai baju sendiri dan pekerjaan sederhana lainnya namun jika dikelilingi oleh orang yang dia sayangi, Azkia menjadi manja dan selalu minta dibantu untuk mengerjakan sesuatu. Azkia masih harus dirayu untuk berwudhu dan dipakaikan mukenanya ketika tiba waktunya sholat berjamaah seluruh anggota keluarga. Sekali waktu Azkia sangat bersemangat mengejar Iqro 3 sehingga dalam sehari mampu menyelesaikan beberapa lembar Iqro 2. Tapi di waktu yang lain, menyentuh Iqro menjadi sangat malas. Moodnya masih naik turun dan kalau merasa capek emosinya kurang terkendali. Bisa tiba-tiba marah dan ekspresi mukanya “manyun”.

Akan tetapi kami sangat bersyukur karena pengasuhan ibu guru di sekolah lebih dapat menjadikan Azkia berperilaku santun (beberapa contohnya adalah mau “salim” kepada orang yang lebih tua, menjawab salam dan mau memberikan bantuan kecil sesuai kesanggupannya) dan kami selaku orang tua santri mengucapkan terima kasih atas pengamatan serta bimbingan Ibu Emma dan Ibu Eka yang bahkan lebih perhatian dari kami sebagai orangtua. Kami sangat lega karena catatan yang kami terima setiap minggu dan yang terbaru di tengah semester bisa sangat detail, lengkap dan terukur, sehingga kami tidak pernah merasa melewatkan setiap program kegiatan Azkia  di R.A Al-Amanah.

Kami mengakui keterbatasan kami sebagai orangtua yang keduanya bekerja sehingga kebersamaan dengan Azkia hanya hari Jumat-Minggu. Keseharian Azkia lebih banyak dengan nenek, kakek dan tantenya, terutama nanti sementara setelah tiba waktu kami melanjutkan kuliah, sebagai bagian dari tugas dari tempat kami bekerja. Kami memutuskan Insya Allah untuk selanjutnya Azkia juga akan melanjutkan sekolah bersama-sama dengan kami setelah menetap di tempat baru. Untuk itu kami harap pengasuhan berlandaskan islam yang dilalui Azkia dapat tertanam dengan kuat, menjadi fondasi untuk langkah hidup ananda Azkia kelak menjadi manusia yang cerdas, sholehah dan berprestasi. Aamiin ya Robbal aalaamiin..

0

Sekolah dan Fanatisme (Satu komentar untuk sebuah artikel mommiesdaily.com)

 

Dari liputan khusus “muslim kelas menengah” di majalah Tempo edisi Agustus yang baru saja saya baca, ada paparan dari penulis buku “Marketing to The Middle Class Moslem”  tentang preferensi mendidik anak:

Dulu, pilihan pertama jatuh ke sekolah negeri. Kalaupun menyekolahkan anak ke sekolah swasta, pilihannya adalah sekolah Katolik atau Kristen, yang memang dianggap lebih maju daripada sekolah islam pada 1970-an sampai 1990-an awal. Saat itu sekolah Islam untuk kelas menengah muslim masih bisa dihitung dengan jari. Al-Azhar adalah sedikit di antaranya. Sekolah berlabelkan islam saat itu tidak merepresentasikan kelas menengah.

Fenomena sekolah berasrama berkarakter islam dengan pelajaran agama tidak seketat pesantren marak pada 2000-an. Kini, sekolah swasta islam justru dicari. 75% keluarga kelas menengah menyekolahkan anaknya di sekolah islam, dan mayoritas dari mereka masuk kategori universalist -yang dalam buku itu didefinisikan sebagai orang berwawasan luas dan menerapkan nilai-nilai islam dalam kehidupan keseharian. Universalist lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai universal.

Nah menanggapi artikel tentang sekolah dan fanatisme di sebuah portal (Sekolah dan Fanatisme), saya yakin sebenarnya tujuan dari sekolah islam adalah bukan untuk mengarahkan pemikiran sempit dan radikalisme, justru ini adalah untuk menjawab permintaan para orangtua muslim jaman sekarang yang ingin membuka wawasan lebih terhadap islam, selain menyekolahkan anak di sekolah yang dianggap mampu membangun karakter (walaupun siap membayar berapapun harganya, karena sekolah islam swasta merupakan sekolah mahal).

20140528_13052620140528_130805 

Anak saya sekarang sekolah di RA (Raudhatul Athfal), setara TK. Perbedaan RA dan TK adalah, RA ada di bawah Kementerian Agama sedangkan TK ada di bawah Kemendiknas. Saya akui sekolah ini cukup bagus (semua tetangga yang ditanya merekomendasikan untuk daftar kesini) dan biayanya lumayan, walaupun mungkin untuk beberapa orangtua biayanya di RA  Al-amanah ini masih dianggap standar atau menyatakan setuju bahwa biaya bukan masalah demi pendidikan yang berkualitas. Sampai saat ini, setelah ikut pertemuan orangtua dan dari pengamatan tata tertib baik yang tertulis maupun yang tidak, saya yakin pendekatan yang dipakai di RA ini sebenarnya adalah gabungan dari aspek agama, sosiologis, dan humanis. Lebih moderat, bukan doktrinasi, melainkan lebih ke pemahaman dan aplikasi dalam keseharian anak.

20140528_130623

*gambaran kegiatan di sekolah

127

Aplikasi Visa Australia .. Bagaimana bila mendapat status “TB lung suspect” active?

Dari semua langkah-langkah untuk melanjutkan sekolah di Australia sudah banyak yang menuliskannya, mulai dari bagaimana cara meraih beasiswanya, predeparture training sampai urusan packing dan segala macamnya. Hanya tinggal gugling saja. Tapi bagi segelintir orang yang terkendala masalah medical checkup seperti saya, hal yang paling mungkin adalah visa belum akan bisa di-approve kecuali para visa applicantnya menjalani treatment dengan dokter paru selama 6 bulan dan menyebabkan keberangkatannya ditunda/defer. Persyaratan agar visa disetujui salah satunya adalah x-ray harus bersih dari indikasi tuberculosis.

“Should you have Tb, you will not be permitted to visit Australia until you have completed recommended treatment and successful re-testing.”

Link: health clearance to come to Australia

***

Waktu itu tanggal 9 Oktober 2013. Hari dimana hampir berakhirnya predeparture training 3 bulan. Ada email masuk sore-sore dari mas Ponco, ADS officer: “Mohon dengan segera menghubungi pihak Medikaloka dikarenakan Ibu harus melakukan medical checkup tambahan”. Medikaloka waktu itu adalah klinik tempat screening health yang ditunjuk oleh kedutaan.

Ternyata hasil Medical checkup saya dinyatakan berstatus TB lung suspect=active. Lalu saya diminta setelahnya untuk datang berkonsultasi dengan dokter paru di Medikaloka. Seorang dokter spesialis paru yaitu dokter Alia Harris, memutuskan bahwa saya harus menjalani treatment, kontrol sebulan sekali dan minum antibiotik tanpa putus selama treatment tersebut. Memang katanya seperti itu pengobatannya agar bakterinya tidak menjadi resisten.  Padahal vonis TB lung suspect active tersebut hanya berdasarkan dari x-raynya saja, sedangkan dari tes kultur dahaknya sendiri negatif. Tapi untuk saya pribadi, treatment ini bukan hanya menyangkut masalah defer kuliah tapi juga efek kerja liver kita apabila harus minum obat (masih belum rela hehehe), dari pengalaman saya sebagai seorang ibu mungkin diagnosa & resep dari dokter tidak bisa saya percaya 100% (kebanyakan baca teori “rational use of medicine” & berita malpraktik/ wanprestasi, hehehe maaf ya bagi yang disini profesinya tenaga medis). Yang saya tahu obat TB itu keras, harus dispesifikasi ke masing-masing pasiennya.

Pada hari itu juga di Medikaloka, saya bertemu dengan awardee lainnya yang sedang menjalani treatment paru. Mungkin berbeda dengan awardee yang lain yang langsung menyatakan OK untuk langsung menjalani treatment, saya ragu dan selain itu saya mendengar kabar bahwa medikaloka sudah tidak lagi terdaftar sebagai tempat health screening yang ditunjuk oleh kedutaan Australia, dan itu dibenarkan oleh email berikutnya dari Mas Ponco bahwa bulan November pada saat itu adalah bulan terakhir Medikaloka melayani medcheck untuk keperluan visa Australia. Hal yang lain, saya merasa tidak merasa punya gejala seperti yang ditunjukkan oleh penyandang penyakit tersebut: batuk2, berat badan merosot tajam (akhir-akhir ini berat badanku ini malah meningkat sangat tajam 😥 ), dll. Hasil medical checkup saya terdahulu untuk keperluan pengangkatan CPNS menjadi PNS juga tidak menunjukkan tanda apapun.

Bagaimanapun saya tidak ingin mendapat masalah, tetapi saya sudah mengira memang visa tidak bisa keluar. Dan praktisnya ya tinggal mengikuti prosedur treatment ini saja namun saya ingin konsultasi dulu dengan pihak ADS mengenai kemungkinan bisa menjalani medical checkup di tempat lain (second opinion). Apakah hal itu diizinkan oleh ADS/ kedutaan? Ternyata bole, tetapi katanya sistem global health atau e-Health mungkin sudah diotorisasikan dari kedutaan kepada satu tempat saja, jadi tetap mereka yang ditunjuk yang bisa mengupdate record kita. Artinya kalau kita mencari tempat lain untuk berobat , akan butuh waktu lebih lama prosedur treatment yang dijalani yaitu sekitar 8 bulan (karena biasanya RS yang baru akan cek dahak kita lagi yang memakan waktu 2 bulan) dan defer hanya diberikan maksimal 2x oleh ADS.

Lalu bagaimana dengan biayanya, saya ingin tahu detailnya yang mana yang sebenarnya yang dicover dan mana yang tidak dicover. Hal ini belum pernah dijelaskan kepada kami. Saya tahunya dari awardee yang lain, bahwa sekali menjalani treatment di medikaloka menghabiskan biaya sekitar Rp 800.000. Dokter Lin, dokter umum di Medikaloka mengatakan bahwa semua dicover oleh ADS. Membingungkan. Pada waktu cek darah di awal follow up di bulan November, saya diminta kasirnya untuk konfirmasi via telepon ke ADS apakah pemeriksaan yang tadi masih dicover atau tidak, sepertinya mereka sendiri ragu karena pada bulan November saat itu menurut mereka sudah tidak dicover ADS. Akhirnya jelas sudah dari ADS bahwa untuk follow up treatment di luar general checkup, kita sendiri yang menanggung.

Dengan menyemangati diri sendiri, saya tebus juga obatnya. Setengah hati. Saya ini kan sehat-sehat saja.  😦

Yah.. mungkin memang para dokter punya golden standard akan gejala penyakit-penyakit. Jadi meski kita merasa sehat dan hasil dahak negatif, dengan hasil xray saja, dokter bisa mendiagnosa bahwa kita terinfeksi. Yah.. mungkin juga diagnosis baru bisa ditegakkan setelah ada pengobatan beberapa bulan. Yah… Mungkin memang kontrol itu penting utk tahu perkembangan kita. Dan sebagai pengingat aja kalau kita masih under treatment. Takutnya kalau dilepas, kita lalai berobat. Selain itu, semoga dokter juga bertanggung jawab membuat laporan tentang perkembangan kita…  Mungkin memang ada bagian dari diri yang bermasalah, perlu diperbaiki. Yah…yasudahlah bismillah saja. Lahawla walakuwwata Illabillah…

Hmm cuma dihitung hitung kok ngemodal juga yaa… Mana ASKES gak laku pula di klinik ini. Ini saya coba rinci… yang paling mahal ada di tes dahak, kabarnya sekarang tarifnya sudah naik lagi:

  • Obat (tergantung dosis): bagi penderita TB yg baru pertama kali (bukan kambuh) biasanya:
    • Rifampicin 500-600 mg/hari
    • Etambutol 500 mg/hari
    • INH 300 mg/hari
    • Pyrazinamide 500 mg/hari
  • Obat 4 jenis diatas hanya diresepkan untuk 2 bulan pertama, 4 bulan sisanya hanya 2 jenis saja: Rifampicin dan INH
  • Total biaya obat tersebut perbulan untuk 2 bulan pertama tidak sampai 200rb kalau beli di apotik luar. Kalau di Medikalokanya bisa sampai 300ribuan, meskipun obatnya sama-sama generik. Saya ingin membandingkan jadi saya tebus diluar tapi sayang yang Etambutol baru  dapet lengkap setelah muter-muter di 4 apotik: di kimia farma dan guardian gada, di century cuma ada 1 strip (buat 5 hari doang), baru dapet lengkapnya di apotik senopati lah padahal inilah yang paling dekat kantor… ngapain muter-muter dulu yaa hehe. Jadwal konsultasi dengan dokter selanjutnya adalah sebelum obat sebulan habis.
  • Konsultasi per pertemuan di medikaloka: 275rb. Kalau ‘konsultasi’, saran saya sebulan sekali biar tidak boros. Karena dokter paru di medikaloka tembak langsung 2 minggu sekali. Padahal sama saja. (sebelumnya dokternya minta untuk kontrol 2 minggu sekali di 2 bulan pertama, tapi saya nawar sebulan sekali aja karena sama aja dateng cuma ditanya keluhan dan diresepin obat baru, udah gitu doang hehe.. kalau buat saya, dokternya kurang banyak ngasih info kecuali kalau kitanya sendiri yang mencecarnya dengan pertanyaan)
  • Penjadwalan untuk X-ray dilakukan bulan ke 2, 4 dan 6. X-ray biayanya Rp 395.000
  • fakta yang agak pahit: tes kultur sebanyak 3x biayanya Rp 1.038.000

 

Hasil Chest XRay (CXR):

x-ray

 

Pengambilan Culture Sputum:kultur

 

Alhamdulillah hasil labnya selalu negatif. Alhamdulillah….

 

Tapiiii …… tetep aja prosedur treatment harus tuntas sampai 6 bulan. Saklek.

Sebel banget gak sih? Iya sebel. 😥 …Tapi masih bersyukur juga karena klinik Medikaloka ini terbilang deket lokasinya sama kantor, ga terbayang untuk awardee yang domisilinya di luar jabodetabek.. duh bolak baliknya kayak apa… tiketnya sama akomodasinya itu loh. Hmmm…. Misal kita ga ada keluhan apa2, ya setiap habis ketemu dokter, kita jadi positif aja bahwa kondisi kita baik. Emang prosesnya panjang dan mahal. Tapi sekarang saya sudah pada tahap: jalani aja. Toh demi kebaikan kita juga. Semakin kita denial, semakin kita merasa sebel banget dalam hati berbulan-bulan, haha….

Nah jadi buat yang mengalami kasus seperti saya, sabar dan semangat ya kawan. Dijalanin, dinikmati aja 🙂

Penting tentang defer/penangguhan: Dari jumlah account email yang dikirim mas Ponco ada sekitar 20-an orang yang punya kasus yang sama, salah satunya yang saya tahu ada juga tenaga medis yang memang lebih beresiko tertular pasien. Mengingat kami sudah mendapat offer dari universitas dan mengurusi passport biru (untuk PNS), pihak ADS akan mengeluarkan surat resmi defer dan merevisi scholarship detail kami (lembar halaman 10 di kontrak). Stipend/uang saku yang didapat selama menjalani predeparture training tidak diberikan lagi bagi yang menjalani defer.

Note: Mulai intake 2014, beasiswa ADS berubah nama menjadi Australia Award Scholarship (AAS)